TEKNOLOGI PEMBUATAN PRODUK BAKTERI

Prinsip dasar dalam pembuatan produk berbasis bakteri adalah memperbanyak bakteri dalam ruang kultur dan mengemas dalam bentuk produk yang bisa digunakan oleh konsumen tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas bakteri.

Tahap pertama dalam pembuatan produk bakteri adalah pembibitan/breeding. Semua proses breeding makhluk hidup tergantung terhadap genetik. Genetic bibit yang unggul akan menghasilkan spesies yang unggul pula. Seperti halnya dalam budidaya udang, ada benur-benur tertentu yang dihasilkan dari induk genetik unggul akan menghasilkan udang dengan hasil optimal. Dalam bidang mikrobiologi proses menghasilkan bibit bakteri ini sudah terstandarisasi secara international dan ada lembaga-lembaga tertentu yang mengeluarkan bibit bersertifikat yang bebas bakteriophage, diantaranya ATCC (American Type Culture Collection), JTCC (Japanese Type Culture Collection), dll. Bibit ini disebut F0 (F”nol”). Bibit F0 ini kemudian digunakan oleh industri-industri bioteknologi untuk dikembangkan lagi menjadi turunan pertama, yang disebut F1.

Proses memperbanyak bakteri sebagian besar dilakukan dalam cairan yang mengandung nutrisi yang spesifik. Berikut adalah bagan proses pembuatan bakteri.

 

Tahap pertama dari proses produksi bakteri adalah DNA Maping Master Seed, pekerjaaan ini merupakan perkerjaan standar dalam biotechnology untuk mengklarifikasi bahwa master seed bakteri bibit tersebut benar-benar mengandung DNA yang cocok dan stabil digunakan sebagai bibit dalam pembuatan bakteri. Tahap kedua adalah Culture Stages yang dilakukan hingga tiga tingkat perpangkatan sehingga dihasilkan perpangkatan bakteri yang cukup digunakan sebagai input dalam proses fermentasi untuk memperbanyak sel dalam skala industry. Tahap ketiga adalah proses fermentasi skala besar yang dilengkapi dengan makronutrien dan mikronutrien yang sudah disterilkan, dan pada fermentasi tersebut ditambahkan Growth Factor (factor pertumbuhan) yang memicu sel-sel bakteri membelah diri secara terus-menerus dalam cairan fermentasi tersebut.

Cairan hasil fermentasi tersebut 95% adalah air, sisanya adalah nutrisi terlarut dan sel-sel bakteri. Untuk mendapatkan bakteri padat, maka cairan bakteri harus dipisahkan dari air dengan cara mikrofiltrasi, sentrifugasi, spray drying maupun koagulasi. Pengujian cairan bakteri dilapangan bisa dilakukan dengan proses koagulasi dengan larutan tawas alum yang akan mengendapkan sel-sel bakteri dan memisahkannya dengan air. Padatan yang didapat dikeringkan dan ditimbang. Uji ini menggambarkan persentase padatan bakteri dalam air. Perusahaan-perusahaan bioteknologi saat ini lebih memilih mengeluarkan produk dalam bentuk padatan karena efisiensi transportasi dan aplikasi. Selain itu bakteri dalam bentuk padatan lebih stabil, dapat disimpan bertahun-tahun tanpa menurunkan kualitas produk.

Berikut adalah contoh bentuk ketidakstabilan produk bakteri :

1. Sel bakteri mati dan mengendap 2. Cairan bakteri berubah pH dan warna 3. Jerigen Menggelembung