PLANKTON DINOFLAGELLATA

Siklus Hidup, Pengaruh Pada Kolam Budidaya dan Pencegahan

Dinoflagellata adalah mikroorganisme yang termasuk golongan alga. Mikroorganisme ini memiliki bentuk yang unik dan terkadang memiliki bentuk yang mirip dengan jenis alga lainnya. Beberapa jenis dinoflagellata memiliki bentuk yang sangat mirip dengan diatome. Dinoflagellata adalah organism bersel tunggal. Ada lebih dari 2000 species dengan ukuran yang bervariasi mulai dari berukuran kecil mendekati ukuran bakteri hingga berukuran besar,misalnya jenis Noctulica yang dapat tumbuh hingga 2 milimeter sehingga cukup jelas dilihat tanpa bantuan mikroskop. Sembilan puluh persen jenis dinoflagellata hidup dilautan, walaupun ada beberapa species yang hidup di air tawar. Sehingga untuk tambak-tambak yang mengambil air laut secara langsung ada resiko serangan plankton jenis ini.

Dinoflagellata perlu dihindari dalam budidaya udang dikarenakan plankton jenis ini dapat menghasilkan racun dari senyawa Saxitoxin. Racun ini dalam jumlah besar dapat menyebabkan kelumpuhan udang hingga kematian, dalam jumlah kecil senyawa racun ini dapat mengganggu pertumbuhan dan nafsu makan. Saxitoxin  ditemukan  sebagai  suatu  dihidroklorida  dengan  rumus  molekul C10H12H7O4.2HCL dan bentuk molekulnya sebagai berikut :

Sebagaimana namanya, mikroorganisme ini memiliki flagel (alat gerak) yang terletak disekeliling sel tubuhnya. Fungsi dari flagel ini adalah sebagai alat gerak dan indera deteksi terhadap kualitas lingkungan. Pada lingkungan yang buruk mikroorganisme ini akan membentuk cytsa. Dinoflagellata memiliki siklus hidup dan aktivitas yang komplek. Beberapa dinoflagellata memakan mikroorganisme lain yang lebih kecil, dan beberapa jenis yang lain dapat berfotosintesis, dan ada beberapa spesies yang dapat melakukan kedua hal tersebut. Siklus hidup dinoflagellata cukup komplek, siklus ini meliputi fase generative, vegetative dan dorman dalam bentuk cysta

Siklus hidup tersebut yang menyebabkan plankton jenis ini sulit untuk dibasmi, terutama pada fase cysta, dimana pada fase tersebut dinding sel dinoflagellata menebal terdapat lapisan selulosa hingga bahan-bahan sterilisasi (klorin,kaporit, triklorit, dll.) tidak dapat menembus dinding sel dinoflagellata pada saat dalam bentuk cysta. Pada tahap ini untuk melakukan sterilisasi cysta plankton dapat dilakukan dua tahap, yang pertama adalah penipisan dinding sel dengan menggunakan bahan-bahan yang mampu melisis dinding sel (Hydroxyderricin, Prenyleriodictiol, Isoliquiritigenin) dan yang kedua menggunakan oksidator ((klorin,kaporit, triklorit) setelah dinding sel tersebut tipis sehingga senyawa klorin,kaporit ataupun triklorit dapat dengan mudah menembus dinding sel cysta. Berikut adalah gambar siklus hidup dinoflagellata.

Pada fase ini (cysta) dinding sel dino sangat tebal sehingga bahan sterilisasi biasa tidak dapat menembus dinding sel tersebut.

Senyawa aktif yang dapat bekerja untuk melisis dan menipiskan dinding sel adalah Hydroxyderricin, Prenyleriodictiol dan Isoliquiritigenin. Senyawa aktif ini bekerja dengan cara berikatan pada enzim DD-transpeptidase yang memperantarai dinding peptidoglikan mikroorganisme, sehingga dengan demikian akan melemahkan dinding sel mikroorganisme tersebut. Hal ini mengakibatkan sitolisis karena ketidakseimbangan tekanan osmosis, serta pengaktifan hidrolase dan autolysins yang mencerna dinding peptidoglikan yang mengakibatkan kematian pada sel-sel mikroorganisme. Efek farmakologi yang didapat adalah menipiskan dinding sel mikroorganisme juga dapat membantu penetrasi senyawa klorin/kaporit kedalam protoplasma sel mikroorganisme, sehingga proses sterilisasi dapat bekerja lebih maksimal.

Berikut adalah gambar senyawa tersebut :

 

Prenyleriodictiol

 

Isoliquiritigenin